Cerita Rakyat 33 Propinsi dari Indonesia
1. NANGGROE
ACEH DARUSSALAM
Geugasi dan Geugesa
Zaman dahulu kala ada sebuah kampung
yang sangat aman dan damai di daerah Aceh. Di sana tidak pernah terjadi pencurian maupun
perampokan. Masyarakatnya pun tidak pernah saling bertengkar. Kalau ada
masalah, mereka langsung menyelesaikannya secara musyawarah sehingga suasana di
sana hidup
penuh rukun dan saling tolong menolong.
Di kampung itu, hiduplah seorang ibu
dengan anaknya yang masih berusia sepuluh tahun. Si ibu dan anak itu
sehari-harinya mencari kayu bakar di hutan yang kemudian kayu itu dijual ke
pasar. Dari hasil itu, mereka bisa membeli kebutuhan sehari-hari.
Suatu hari, kampung yang aman itu
dikejutkan oleh hilangnya kerbau Mak Yah. Semua masyarakat mencarinya, tapi tak
seorang pun yang menemukannya. Kerbau itu hilang bagaikan ditelan rimba. Hal
ini tidak pernah terjadi sebelumnya sehingga membuat masyarakat bertanya-tanya
siapa yang mencuri kerbau itu. Keesokan harinya, tiga ekor kambing Bang Ma’e
ikut hilang di tempat pengembalaannya. Di sana
yang tinggal hanyalah tulang belulang dan percikan darah di mana-mana. Kejadian
ini membuat warga semakin penasaran. Dalam hati mereka bertanya, “Sebenarnya
siapa yang telah merusak kedamaian di kampung ini?”
Hari-hari berikutnya, makin banyak warga
yang kehilangan binatang ternaknya. Bahkan, salah satu anak Wak Minah juga
telah hilang ketika dia bermain hingga membuat wak itu terus menangis sepanjang
hari. Masyarakat menebak bahwa yang memakan ternak mereka dan mencuri anak Wak
Minah adalah geugasi (raksasa) yang tinggal di hutan sana . Karena tapak-tapak yang tertinggal di
daerah itu sangatlah besar.
Masyarakat
di kampung itu pun mulai resah. Ketakutan mulai melanda di hati mereka. Mereka
pun tidak berani lagi keluar rumah. Ahmad yang tidak tahan dengan keadaan itu
memberanikan diri untuk mencari sang pembuat onar.
Keesokan
harinya, dia berpamitan kepada ibunya untuk pergi ke hutan, tetapi sang ibu
melarangnya. “Jangan Ahmad, nanti kamu
dimakan geugasi,” ucap ibunya gusar.
“Tidak Bu, aku akan menjaga diriku
baik-baik. Ibu berdoa saja agar aku selamat.”
Akhirnya
ibunya hanya bisa mengangguk pasrah menerima permintaan Ahmad, anaknya yang
keras kepala. Kemudian pergilah Ahmad ke hutan seorang diri. Dia hanya membawa
bekal makanan dan satu pisau yang diselip di pinggangnya. Ahmad terus berjalan
hingga dia sendiri tidak tahu lagi sudah sejauh mana dia berjalan. Keringat
mulai membasahi tubuhnya, dia pun beristirahat sebentar di bawah pohon. Dari
kejauhan, tampaklah sebuah rumah panggung dan semangat Ahmad muncul kembali.
Dia menuju rumah itu.
Rumah
panggung itu tidak begitu besar dan juga tidak terlalu kecil. Ahmad
mengetuk-ngetuk pintu rumah itu, tapi tidak ada sahutan. Dia pun masuk. Di
dalam rumah itu terdapat bermacam kepala binatang dan tulang-belulang yang
dijadikan sebagai pajangan. Berbagai jenis tombak dan parang terletak di sudut
rumah itu begitu juga dengan barang-barang lainnya.
“Tolong… tolong…..”
